Tampilkan postingan dengan label akhwat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhwat. Tampilkan semua postingan

Suatu ketika, seorang santri putra bertanya pada Ustadznya:
Ya Ustadz, Ceritakan Kepadaku Tentang Akhwat Sejati…

Sang Ustadz pun tersenyum dan menjawab…

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar jilbabnya yang lebar, tetapi dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghudhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian islamnya….

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kelembutan suaranya, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan laki2 bukan mahramnya…..

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak2nya, keluarga dekatnya, para jama’ah, para tetangga dan orang2 di sekitarnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat ia bekerja tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah tangganya…

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang enak2, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan suami dan anak2nya yang sebenarnya tidak rewel, pintar mengatur cash flow finansial keluarga, mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang cantik, tetapi dari bagaimana ia bermurah senyum dan sejuk jika dilihat di hadapan suaminya dengan sepenuh hati tanpa dibuat2/dipaksakan.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari komitmennya untuk mengatakan bahwa sesungguhnya Tidak ada kata “CINTA" sebelum menikah.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari gelar sabuk hitam dalam olahraga beladirinya, tetapi dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan…

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar banyaknya ia menghafal Al-Quran, tetapi dari pemahaman ia atas apa yang ia baca/hafal untuk kemudian ia amalkan dalam kehidupan sehari2.


….setelah itu, Si Murid kembali bertanya…
“Adakah Akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ya Ustadz ?”

Sang Ustadz kembali tersenyum dan berkata:
“Akhwat seperti itu ada, tapi langka.
Sekalipun ada, biasanya ia memiliki karakter khas antara lain;
Sangat mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun,
tidak lepas dari dunia da’wah (minimal di lingkungan sekitar tempat tinggalnya),
hidup berjamaah tapi tidak dikenal ‘ashobiyah, tidak ingin dikenal-kecuali diminta/didesak oleh jama’ah (masyarakat),
dari keturunan orang2 yang shalih/shalihat,
berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara,
punya amalan ibadah harian, mingguan dan bulanan di atas rata2 orang kebanyakan,
hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain,
dikenal sebagai tetangga yang baik hati,
sangat berbakti terhadap orang tua,
sangat hormat kepada yang lebih tua dan sangat sayang terhadap yang lebih muda,
sangat disiplin dengan sholat fardunya,
rajin shaum sunnah dan qiyamullail & atau bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang2 yang mengenalnya,
rajin memperbaiki istighfarnya (taubatan nashuha),
rajin mendoakan saudara2nya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara terang2an/tersembunyi,
rajin bersilaturahim,
rajin menuntut ilmu-mengaji- (terutama yang syar’i)/minimal rajin hadir di majlis ilmu dan mendengarkannya,
senantiasa menambah/memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya,
rajin membaca/menghafal alqur’an atau hadits dan buku2 yang bermanfaat,
pintar/kuat hafalannya,
sangat selektif soal makanan/minuman yang ia konsumsi,
sangat perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin sekali soal thaharah,
sangat terjaga dari soal2 ikhtilat apalagi berkhalwat,
jauh dari gosip-menggosip,
lisan dan semua perbuatannya senantiasa terjaga dari hal2 yang sia2,
zuhud,
istiqomah,
tegar,
tidak takut/bersedih hati hingga berlarut2 melainkan sebentar (wajar),
pandai menghibur dan pandai menutupi aib/kekurangan dirinya dan orang2 yang ia kenal,
mudah memaafkan kesalahan/kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam,
ringan tangan untuk membantu sesama,
mudah berinfak (bershadaqah),
ikhlas, jauh dari riya,
ujub,
muhabahat,
takabur dan tidak emosional,
cukup sensitif tapi tidak terlalu sensitif (tidak mudah tersinggung),
selalu berbuat ihsan dan muraqobatullah (selalu merasa dekat dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT baik di saat ramai maupun di saat sendirian),
selalu berhusnudzon kepada setiap orang,
benar2 berkarakter jujur (shiddiiq),
amanah dan selalu menyampaikan yang haq dengan caranya yang terbaik (tabligh),
pantang mengeluh/berkeluh kesah,
sangat dewasa dalam menyikapi problematika kehidupan,
mandiri,
selalu optimis,
terlihat selalu gembira dan menentramkan,
hari2nya tidak lepas dari perhitungan (muhasabah) bahwa hari ini selalu ia usahakan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini,
dan senantiasa pandai bersyukur atas segala ni’mat (takdir baik) serta senantiasa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan (takdir buruk) dalam segala keadaan.
Kapan pun dan di manapun.."

Si Murid rupa2nya masih penasaran, dan bertanya kembali kepada Sang Ustadz.
“Ya Ustadz, adakah cara yang paling mudah untuk mendapatkannya? atau minimal bisa mendapatkan seorang Akhwat yang mendekati profil Akhwat Sejati??"

Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya:
“Ada, jika antum ingin mendapatkan Akhwat Sejati nan benar2 Shalihat sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRI ANTUM…!! karena InsyaAllah Akhwat yang shalihat adalah pada dasarnya juga untuk Ikhwan yang shaalih…"

”Dengan  nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi  Allah seru sekalian alam. Yang telah memberi kita nikmat Iman dan Islam,  serta nikmat sehat. Salawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi  Muhammad S.A.W., kepada keluarganya serta para sahabatnya.



Istimewanya wanita:

Menurut Islam, do’a wanita lebih makbul daripada do’a pria karena sifat penyayang seorang wanita yang lebih kuat daripada pria.

Ketika  ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda: ”Ibu  (wanita) lebih penyayang daripada bapak (pria) dan do’a orang yang  penyayang tidak akan sia-sia.”



Berikut adalah 40 (empatpuluh) keistimewaan wanita menurut Islam



1. Wanita yang sholehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang sholeh.

2. Barang  siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang  yang senantiasa menangis karena takutkan Allah S.W.T. dan orang yang  takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

3. Barang  siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu  diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah.  Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak pria. Maka barang  siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak  Nabi Ismail A.S.

4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam surga.

5. Barang  siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau  dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan  dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa  takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah surga.

6. Dari  Aisyah r.a. ”Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak  perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan  menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”

7. Surga itu di bawah telapak kaki ibu.

8. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

9. Wanita  yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka  dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia  kehendaki dengan tidak dihisab.

10. Wanita  yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara,  malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya  selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga  sembahyang dan puasanya).

11. Aisyah  r.a. berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah yang  lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab baginda, ”Suaminya.” ”Siapa  pula berhak terhadap pria?” tanya Aisyah kembali, jawab Rasulullah  S.A.W., ”Ibunya.”

12. Perempuan  apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara  kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu surga  mana saja yang dia kehendaki.

13. Tiap  perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T.  memasukkan dia ke dalam surga lebih dahulu daripada suaminya (10.000  tahun).

14. Apabila  seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka  beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya  setiap hari dengan 1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000  kejahatan.

15. Apabila  seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T.  mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.

16. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

17. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

18. Apabila  semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka  Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba  dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.

19. Seorang wanita sholehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

20. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1.000 pria yang jahat.

21. 2 rakaat sholat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat sholat wanita yang tidak hamil.

22. Wanita  yang memberi minum air susu ibu (asi) kepada anaknya daripada badannya  (susu badannya sendiri) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik  susu yang diberikannya.

23. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.

24. Wanita  yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat  istrinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah S.W.T. dengan penuh  rahmat.

25. Wanita  yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah S.W.T. dan  kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk surga 500 tahun lebih  awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70.000 malaikat dan bidadari  dan wanita itu akan dimandikan di dalam surga. Dan menunggu suaminya  dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

26. Wanita  yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sakit  akan diampuni oleh Allah S.W.T. akan seluruh dosanya dan bila dia  hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.

27. Wanita yang memerah susu binatang dengan ”bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.

28. Wanita yang menguli tepung gandum dengan ”bismillah” Allah S.W.T. akan berkatkan rezekinya.

29. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti menyapu lantai di baitullah.

30. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

31. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadah pada malam hari.

32. Wanita  yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun sholat dan puasa dan setiap  kesakitan pada satu uratnya Allah S.W.T. mengurniakan satu pahala haji.

33. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dianggap sebagai mati syahid.

34. Jika wanita melayani suami tanpa khianat, akan mendapat pahala 12 tahun sholat.

35. Jika  wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2,5 tahun), maka  malaikat-malaikat di langit akan kabarkan berita bahwa surga wajib  baginya.

36. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah S.W.T. akan memberi pahala satu tahun sholat dan puasa.

37. Jika  wanita memijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan  jika wanita memijat suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola  perak.

38. Wanita yang meninggal dunia dengan keridhoan suaminya akan memasuki surga.

39. Jika suami mengajarkan istrinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadah.

40. Semua  orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah S.W.T. di akhirat,  tetapi Allah S.W.T. akan datang sendiri kepada wanita yang memberati  auratnya yaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.





jadi pengen nikah m punya anak :D,,,,,,,,,, 8/9 tahun lagi ya :))

amen

wanita sholehah Laksana rembulan...
Menyinari insan bumi.
Jika ia memandang...
Dunia seakan tergetar karena ketulusannya
Jika ia berkata...
Dunia seakan terlena karena kelembutannya.
Jika ia tersenyum...
Dunia pun ikut tersenyum karena keikhlasannya.
Laksana pelita...
Tubuh terbakar demi sebuah pengorbanan
Menjadi penuntun di tengah gemerlapnya dunia.
Laksana sahabiyah...
Langkah kakinya bagai langkah Fatimah.
Hidupnya penuh ketenangan jiwa.
Karena hatinya selalu berdzikir.
Dialah wanita sholehah..
Yang senantiasa menjadi penentu.
Akan sebuah perubahan dunia
Wanita cantik yang solehah
Penyejuk mata
Penawar hati
Penajam fikiran
Di rumah ia istri
Di jalanan kawan
Di waktu kita buntu
Dia penunjuk jalan
Pandangan kita diperteguhkan
Menjadikan kita tetap pendirian
Ilmu yang diberi dapat disimpan
Kita lupa ia mengingatkan
Nasehat kita dijadikan pakaian
Silaf kita dia betulkan
Penghibur di waktu kesunyian
Terasa ramah bila bersamanya
Dia umpama tongkat si buta
Bila tiada satu kehilangan
Dia ibarat simpanan ilmu
Semoga kekal untuk diwariskan...

“…terlalu sering terdengar atau terbaca bahwa para wanita, seperti yang disebutkan salah satu hadits, amat mendominasi penduduk neraka. Sayangnya, dengan hadits itu, tak banyak diantara mereka yang benar-benar merasa tercambuk. Amal shalih hanya menjadi buah bibir dan penghias lisan namun tak terhentak anggota badan tuk memperagakannya. Apalagi ilmu yang menjadi titian ke surga itu tak pula mereka buru…”


***


Judul : Mawarku di Hari Esok

oleh: Fachrian Almer Akiera

Muraja'ah: Ustadz Djamaluddin, Lc.



***

Perkenankan kami mengirim senyuman cita-cita yang kami mekarkan dari kejauhan kota kami. Senyuman cita-cita ini benar-benar bersemi seiring meredanya hujan sore tadi saat dedaunan muda mulai hijau melebat di dahan-dahan pohon flamboyan.


Menulis catatan akhir pekan bagian kedua ini, selanjutnya, perkenankanlah pula kami mengutip sebuah permintaan agung yang terlontar dari lisan seorang wanita. Ia begitu mengharapkan dentuman risalah langit yang akan menyuburkan kabahagiaan di taman hatinya. Tak hanya itu, dari permintaannya tersebut, ada beberapa mutiara yang bisa menjadi penabur hikmah bagi mereka (para wanita) di zaman ini.


Rekaman permintaan ini kami temukan dalam kitab Li An-Nisa’i Ahkamun wa Adabun karya syaikh Muhammad bin Syakir Asy-Syarif. Kitab ini menghidangkan 43 hadits tentang wanita beserta uraiannya.



Abu Hurairah bercerita bahwa kaum wanita mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka berkata, ”wahai Rasulullah, kami tak bisa mengikuti majelismu karena banyak kaum lelaki. Berikanlah satu hari bagi kami untuk bermajelis dengan engkau.” Mendengar permintaan tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam setuju dan kemudian bertutur, “tempat kalian di kediaman fulan.” Mereka pun datang pada hari dan tempat yang dijanjikan.[1]



>>Sehari Saja Untuk Kami



“..Berikanlah satu hari bagi kami untuk bermajelis dengan engkau.”



Lihatlah, begitu mulianya apa yang mereka pinta. Mereka tak pintakan emas, permata atau berlian. Mereka pintakan kemuliaan melalui ilmu yang mereka buru: “Berikanlah satu hari bagi kami untuk bermajelis dengan engkau.”



Begitu irinya mereka kepada kaum laki yang selalu bermajelis dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka meneguk sari pati ilmu langsung dari lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, mereka mempelajari hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Inilah ibadah yang agung. Iman mereka bertambah nan membuahkan ketakwaan. Mereka bergelut dengan hal-hal yang menambah kapasitas keilmuan. Mereka usahakan menjemput ilmu dan mendekati sosok-sosok yang membawa ilmu. Sungguh bertabur sejuta kebaikan dari apa yang mereka raih.



Inilah salah satu kebahagiaan itu yaitu mengenal dan memahami agama islam yang mulia. Mereka mengetahui bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan kejernihan ilmu dan bersihnya pendidikan syar’i.



Sungguh potret yang begitu bertolak belakang dengan wanita di zaman ini.



Wahai pena kami, lihatlah para wanita kita, mereka mengandrungi novel-novel picisan yang katanya islami. Mereka menikmati roman-roman fiktif yang menyeret mereka terjebak dalam dunia khayal. Mereka terbius dengan film-film drama cinta korea.



Memang benar, akan ternikmati mimpi-mimpi indah dan ilusi yang memabukkan ketika mereka melakoni apa yang kami sebutkan tetapi itu semua akan berakhir dengan terkikisnya kepribadian dan jati diri sebagai muslimah. Akan ada duka yang siap menginangi hati lalu membinasakan mereka.



Kami dapati diantara mereka benar-benar terbius dengan artis-artis pria korea yang katanya amat menawan itu. Foto-fotonya menjadi koleksi. Ada pula yang terharu bahagia ketika sang artis itu tampil di layar kaca. Parahnya, mereka teriak histeris memandang sang artis saat konser. Lisan-lisan mereka begitu sering terbumbui kisah-kisah atau adegan film sang idola.



Di lain waktu, untuk konsumsi bacaan, mereka penuhi dengan majalah yang jauh dari nilai-nilai nabawi. Gosip-gosip murahan bertumpuk dalam majalah itu. Mode-mode pakaian terkini pun menjadi bahan utama yang dibicarakan. Kisah-kisah fiktif nan murahan menyelusup dalam memori. Mereka lupa, atau tak tahu, majalah-majalah seperti itu secara perlahan membius alur berpikir. Ujung-ujungnya semua itu mengikis jati diri mereka sebagai muslimah yang layak menjadi wanita paling bahagia.



Inikah sumber bahagia itu?


Inikah sumber ilmu yang merupakan mata air keimanan itu?





>>Semburat Malu Tersipu



”wahai Rasulullah, kami tak bisa mengikuti majelismu karena banyak kaum lelaki.”


Agungnya ucapan itu. Sebuah ucapan agar mereka tak terlihat oleh laki-laki non mahram. Inilah sebuah ucapan yang terbalut pesona rasa malu yang begitu mengagumkan. Inilah sebuah ucapan yang menyembur dari hati yang terhiasi akhlak mulia sebagai wanita muslimah.


Wahai pena kami, marilah kita lihat bagaimana rasa malu wanita di zaman ini benar terkikis menipis.



Di facebook, mereka menampilkan aurat yang sungguh tak layak untuk dilihat. Mereka memajang foto-foto yang mengundang fitnah bagi kaum adam. Rambut yang menjadi mahkota pun dipamerkan. Lengan terbuka. Lehernya tak terbalut kain penutup. Muka atau wajah yang merupakan kumpulan titik pesona menjadi kebanggaan di hadapan non mahram.



Para wanita yang hanya sekedar saja menutup aurat pun tak kalah memamerkan apa yang ada pada diri mereka. Lekuk tubuh yang harus tertutup sempurna malah diekspos. Senyuman khas sang penggoda terpajang walaupun tak berniat menggoda.



Sungguh indah dan mulianya apa yang dikatakan Asma’ binti Abu bakar radhiyallahu anhuma. Beliau (Asma’) berkata:



“Kami menutupi wajah-wajah kami dari pandangan kaum laki-laki dan kami menyisir rambut kami terlebih dahulu ketika hendak melakukan ihram.”[2]



Begitu pula apa yang dikatakan Aisyah radhiallahu ‘anha:


“Adalah para pengendara melewati kami sedangkan kami tengah berihram bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila para pengendara tersebut melewati kami, maka masing-masing dari kami menutupkan jilbabnya dari kepalanya agar menutupi wajahnya. Dan ketika mereka berlalu maka kami pun membukanya kembali.”[3]


Subhanallah.


Segala puji bagi Allah, sungguh segala puji bagi-Nya. Merekalah teladan dalam memahkotakan rasa malu di singgasana hati. Itulah rasa malu yang terpercik dari jernihnya telaga keimanan.


Kembali ke dunia maya, pada saat yang sama, obrolan-obrolan yang terbumbui dengan canda diantara lawan jenis menjadi suatu hal yang lumrah lalu berujung pada pembicaraan yang menyeret keduanya dalam maksiat hati.


Facebook yang seharusnya dimanfaatkan untuk menanmbah kapasitas keilmuan dengan membaca artikel-artikel, malah menjadi latar bagi drama cinta dunia maya. Mereka tak malu melabelkan diri dengan “in a relationship with” atau “engaged with”. Apa yang mereka inginkan?

Status facebook yang seyogyanya ditulis dengan hal-hal yang bisa menjadi pelajaran, malah jauh dari kesahajaan.



“aku mencintaimu sepenuh hatiku”


“kangeeeeeeeen”


“kau adalah belahan hatiku”


“aduh, kakiku caaaakiiiiit”


“ge dengerin musik nih”


“artis korea yang tadi kereeeeen banget”



Sungguh rasa malu yang menjadi penghias akhlak tak lagi menjadi balutan hati. Dimanakah rasa malu itu kini berada?



***


Ah, banyak sekali yang ingin kami paparkan. Tetapi baiklah kami titipkan salam untuk para wanita agar mereka mempercantik diri dengan kemuliaan islam dan merias diri dengan ilmu sehingga berbahagialah mereka arungi hari-hari di akhir zaman ini. Sudah selayaknya mereka menambah kapasitas keilmuan yang mendekatkan mereka kepada Rabb Yang Maha Agung yaitu dengan mempelajari tauhid dan aqidah yang shahih, mempelajari hukum dan adab-adab yang berhubungan dengan kewanitaan, bahkan mempelajari keterampilan-keterampilan yang bersifat keduniaan.


Pula, kami berharap mereka benar-benar membalut diri dengan rasa malu yang mulai terkikis fitnah-fitnah zaman. Sungguh rasa malu merupakan salah satu kemuliaan. Kelak ataupun saat ini, kami yakin, predikat “wanita paling bahagia di dunia” akan benar-benar mereka raih. Inilah senyuman cita-cita yang kami maksudkan itu.


Wallahu a’lam.



Subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ila hailla anta asytaghfiruka wa atuubu ilaika.



Mataram, Kota Ibadah,16 Zulqa'dah 1431 H

________

Referensi:

1. Kitab Li An-Nisa’i Ahkamun wa Adabun karya syaikh Muhammad bin Syakir Asy-Syarif

2. Kitab Hiraasatu Al-Fadhilah karya syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid

3. beserta buku tambahan lainnya


________

Endnotes:


[1] HR Ahmad (7310), syaikh Al-Arnauth berkata, “sanadnya shahih sesuai syarat muslim”,; Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya (VII/203); Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (I/64), juga diriwayatkan dalam kitab Shahihnya bab Kitab Ilmu (102).


[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, ia berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim. Hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi.”


[3] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Daaruquthni dan Al-Bahaqi